Sistem Syaraf Tepi

I. Learning Objective
1. Bagaimana anatomi sistem syaraf tepi (Makro dan Mikro)?
2. Bagaimana fungsi sistem syaraf tepi?
3. Bagaimana mekanisme penghantaran impuls?
4. Jelaskan apa yang dimaksud neurotransmitter?
5. Sebutkan macam-macam gerak refleks?

II. Pembahasan
1. Bagaimana anatomi sistem syaraf tepi (Makro dan Mikro)?
MAKROANATOMI
o Sistem Saraf Somatik
Sistem saraf somatic tersusun atas 12 nervus kranialis yang bekerja dengan membawa informasi dai organ sensori ke otak, beberapa pasang nervus yang lain mengontrol muskulus, nervus yang lain dihubungkan dengan glandula atau organ dalam lain seperti jantung dan paru-paru dan 31 nervus spinalis beserta cabang-cabangnya. 12 pasang nervus kranialis tersebut meliputi :

I. n. Olfactori (Sensoris)
Saraf ini berfungsi sebagai saraf pembau, yang terletak dibagian atas dari mukosa hidung di sebelah atas dari concha nasalis superior.
II. n. Optikus (Sensoris)
Saraf ini penting untuk fungsi penglihatan dan merupakan saraf eferen sensori khusus. Pada dasarnya saraf ini merupakan penonjolan dari otak ke perifer.
III. n. Okulomotorik (Motoris)
Saraf ini mempunyai nucleus yang terdapat pada mesensephalon. Saraf ini berfungsi sebagai saraf untuk mengangkat bola mata
IV. n. Trochlearis (Motoris)
Pusat saraf ini terdapat pada mesencephlaon. Saraf ini mensarafi muskulus oblique yang berfungsi memutar bola mata
V. n. Trigeminalis (Campuran)
Saraf ini terdiri dari tiga buah saraf yaitu saraf optalmikus, saraf maxilaris dan saraf mandibularis yang merupakan gabungan saraf sensoris dan motoris. Ketiga saraf ini mengurus sensasi umum pada wajah dan sebagian kepala, bagian dalam hidung, mulut, gigi.
VI. n. Abducens (Motoris)
Berpusat di pons bagian bawah. Saraf ini menpersarafi muskulus rectus lateralis. Kerusakan saraf ini dapat menyebabkan bola mata dapat digerakan ke lateral dan sikap bola mata tertarik ke medial seperti pada Strabismus konvergen.
VII. n. Facialis (Campuran)
Saraf ini merupakan gabungan saraf aferen dan eferen. Saraf aferen berfungsi untuk sensasi umum dan pengecapan sedangkan saraf eferent untuk otot wajah.
VIII. n.Vestibulukohlearis (Sensoris)
Berfungsi untuk keseimbangan dan pendengaran (Rachman, 2004).
IX. n. Glossopharyngeal (Campuran)
Saraf ini mempersarafi lidah dan pharing. Saraf ini mengandung serabut sensori khusus. Komponen motoris saraf ini mengurus otot-otot pharing untuk menghasilkan gerakan menelan. Serabut sensori khusus mengurus pengecapan di lidah. Disamping itu juga mengandung serabut sensasi umum di bagian belakang lidah, pharing, tuba, eustachius dan telinga tengah
X. n. Vagus (Campuran)
Saraf ini terdiri dari tiga komponen: a) komponen motoris yang mempersarafi otot-otot pharing yang menggerakkan pita suara, b) komponen sensori yang mempersarafi bagian bawah pharing, c) komponen saraf parasimpatis yang mempersarafi sebagian alat-alat dalam tubuh.
XI. n. Spinalis Assesorius (Motoris)
Merupakan komponen saraf kranial yang berpusat pada nucleus ambigus dan komponen spinal yang dari nucleus motoris segmen C 1-2-3. Saraf ini mempersarafi muskulus Trapezius dan Sternocieidomastoideus.
XII. n. Hypoglosus (Motoris)
Saraf ini merupakan saraf eferen atau motoris yang mempersarafi otot-otot lidah. Nukleusnya terletak pada medulla di dasar ventrikularis IV dan menonjol sebagian pada trigonum hypoglosi.
31 pasang nervous spinalis terdiri dari : 8 pasang saraf cervix (leher), 12 pasang saraf thorax (punggung), 5 pasang saraf lumbal (pinggang), 5 pasang saraf sacral (selangkang), dan 1 pasang saraf coccygeal (ekor) (Rachman, 2004).
Ada 3 buah pleksus yaitu :
a. Pleksus Cervicalis merupakan gabungan urat saraf leher yang mempengaruhi bagian leher, bahu dan diaphragma.
b. Pleksus Brachialis mempengaruhi otot kaki depan (pada hewan berkaki empat). Berikut saraf yang berasal dari pleksus Brachialis beserta daerah otot yang diinervasinya oleh masing-masing pleksus.
Saraf Otot yang diinervasi
n. Pectoralis m. Pectoralis profunda
n. Suprascapularis m. Supraspinatus dan m. Infraspinatus
n. Subscapularis m. Subscapularis
n. Thoracis longus m. Serratus ventralis
n. Axillaris m. Terres mayor, m. Terres minor, m. Deltoideus, m. Brachiocephalicus
n. Thoracodorsalis Ramifikasi ke m. Latisimus dorsi
n. Musculocutaneus m. Coracobrachialis, m. biceps brachii, m. brachialis
n. Medianus m. Pronator terres, m. Pronator quadratus, m. flexor carpi radialis, m. flexor digitalis superficialis, m. flexor digitalis profundus
n. Ulnaris m. flexor digitalis ulnaris dan m. flexor digitalis superficialis
n. Radialis Mm. Extensor antebrachii, m. carpal, m. Terres minor

c. Pleksus Lumbosakralis yang mempengaruhi bagian pinggul dan kaki. Merupakan anastomose cabang ventral n. spinalis lumbar ke 3 terakhir (L4, L5, L6) dan sacral kedua pertama (S1, S2). Berikut saraf yang berasal dari pleksus Lumbosakral beserta daerah otot yang diinervasinya oleh masing-masing pleksus.
Saraf Otot yang diInervasi
n. Femoralis, bercabang menjadi:
• n. Iliospoas
• n. Saphenus
m. psoas major dan m. iliacus
m. rectus femoris, vastus medialis; m. pectineus, m. sartorius
n. Obturator m. adductor, m. pectineus, m. gracilis
n. Sciatic, mempercabangkan
• Sciatic mayor

• Tepi posterior Sciatic di daerah articulatio coxofemoralis
• n. Cutaneous posterior
• n. Peroneal
• n. Tibialis
m. obturator internus, m. gemellus, m. quadratus femoris.
m. bicep femoris, m. semitendinosus, m. semimembranosus
kulit daerah lateral tarsus dan metatarsus
Daerah pelvis
m. gatrocnomius, innervasi m flexor digitalis superfisialis dan profunda, m. popliteus, m. soleusn.
n. Gluteus anterior m. Gluteus profunda
n. Gluteus posterior m. Gluteus superficial
n. Metatarsal
n. Digitalis n. Digitalis axial dorsal, medial dan lateral dr n. metatarsal superficial.
n. Sacral Cabang ventral ke 3 sebagai n. pudic, ke 4 n. hemorrhoid posterior, ke 5 ke m. spinter ani externus
n. Coccygeal Inervasi struktur ekor

o Sistem Saraf Autonom
Sistem saraf otonom merupakan bagian dari sistem saraf perifer dan mengontrol banyak organ serta muskulus di dalam tubuh. Berdasarkan sifat kerjanya, sistem saraf otonom dibedakan menjadi 3 kelompok yaitu : system saraf simpatik, system saraf parasimpatik, system saraf enterik (Astuti, 2007).
  • Saraf simpatik
Saraf simpatik disebut juga system saraf thorakolumbal karena menginervasi bagian thoraks dan lumbal memiliki ganglion yang terletak di sepanjang tulang belakang yang menempel pada sumsum tulang belakang, sehingga memilki serabut pra-ganglion pendek dan serabut post ganglion yang panjang. Serabut pra-ganglion yaitu serabut saraf yang yang menuju ganglion dan serabut saraf yang keluar dari ganglion disebut serabut post-ganglion.
Badan neuron yang menjulurkan serabut preganglionar simpatetik terletak di semua segmen torakal, dan lumbal 1 dan 2. Neuron-neuron tersebut menduduki kornu laterale substansia grisea medula spinalis, dan dikenal sebagai kolumna intermediolateralis. Serabut-serabut preganglionar meninggalkan medula spinalis bersama-sama dengan radiks ventralis setinggi foramen intervertebrale menggabungkan diri dengan radiks dorsalis untuk menyusun saraf spinal. Pada tempat itu juga, mereka meninggalkan saraf spinal sebagai rami komunikantes alba dan menuju trunkus simpatikus. Trunkus ini tersusun oleh sepasang rantai di kedua belah sisi tulang belakang. Dan rantai itu terdiri dari ganglion-ganglion yang bersambung satu dengan yang lain melalui juluran-juluran mereka. Pada umumnya ditemukan 3 pasang ganglion di daerah servikal, 12 pasang di daerah torakal, 5 pasang di daerah lumbal, 2 pasang di daerah sakral dan satu ganglion tunggal di garis tengah os koksigis. Serabut-serabut preganglionar tidak semuanya berakhir pada ganglion yang setingkat, banyak juga yang berakhir di ganglion yang terletak beberapa segmen lebih atas atau lebih bawah. Sebagian lagi melewati saja ganglion trunkus simpatikus untuk meneruskan perjalanannya ke ganglion-ganglion yang terletak di organ dalam.
Ganglion yang terletak di kedua sisi tulang belakang disebut ganglion paavertebrale, dan ganglion yang terletak dekat dengan organ dalam disebut ganglion prevertebrale. Kedua ganglion tersebut menjulurkan serabut yang disebut sebagai postganglioner. Berbeda dengan serabut preganglioner yang memiliki selubung mielin, serabut postganglioner ini tidak bermielin (Vandee, 2009).
  • Saraf Parasimpatik
Saraf Parasimpatik atau disebut juga kraniosakral karena sistem saraf tersebut menginervasi bagian cranial dan sacral. Berupa susunan saraf yang berhubungan dengan ganglion yang tersebar di seluruh tubuh. Sebelum sampai pada organ serabut saraf akan mempunyai sinaps pada sebuah ganglion seperti pada bagan berikut. Saraf parasimpatik memiliki serabut pra-ganglion yang panjang dan serabut post-ganglion pendek.
Preganglionik parasimpatik sistem saraf timbul dari sel bodies dari inti motorik nervus kranialis III, VII, IX, X pada batang otak dan dari segmen korda spinalis sacral kedua, ketiga, dan keempat. Disebut juga sebagai jalur kranio-spinal/kranoisakral. Serabut preganglionik berjalan hampir ke semua organ yang dipersarafi, dan sinap pada ganglia yang dekat atau berada pada organ tersebut, meningkatkan impuls ke serabut postganglionik yang mempersarafi jaringan yang sesuai. Sel ganglion dapat terorgansisir menjadi satu (misal : Pleksus mienterikus pada usus halus) atau dapat juga difus (misal : Vesica urinaria, pembuluh darah). Serabut preganglionik terbanyak pada nervus vagus (Cunningham, 2002).
Nervus kranialis III, VII, dan IX mempengaruhi pupil dan sekresi glandula salivarius, sementara nervus vagus (X) membawa serabut saraf ke jantung, paru, lambung, upper intestine dan ureter. Serabut sacral membentuk pleksus yang menginervasi colon distal, rektum, vesica urinaria, dan organ reproduksi. Saraf simpatik dan parasimpatik bekerja pada efektor yang sama tetapi pengaruh kerjanya berlawanan sehingga keduanya bersifat antagonis (Vandee, 2009).
MIKROANATOMI
Akhiran saraf perifer
1. Akhiran saraf bebas
- Tersebar di seluruh tubuh
- Berada di kulit, otot, tendon, tulang, dan banyak organ visera.
- Terdiri atas serat saraf kecil dengan sedikit percabangan dan terlibat dalam penginderaan sakit.
2. Akhiran saraf berkumpul
a. Organ tendon golgi
b. Korpuskel lamellar (Pacini) dan korpuskel genital
Korpuskel lamellar pada kulit, membran mukosa, dan kornea sedangkan korpuskel genital di genitalia eksterna dan putting susu adalah reseptor tekan dalam yang mempunyai kapsula sangat tebal terdiri atas banyak lapisan konsentris sel-sel jaringan ikat yang kontinyu dengan sel-sel endoneurium sekitar serat sensoris.
c. Korpuskel Meissner
Korpuskel Meissner adalah reseptor raba terletak di papila dermis kulit telapak kaki, telapak tangan dan ujung jari. Korpuskel terdiri atas akhiran saraf berkaitan dengan suatu kumpulan yang secara kasar berbentuk seperti buah per dari sel-sel jaringan ikat (Johnson, 1994).
o Susunan saraf perifer terdiri dari saraf kranial (keluar dari otak) dan saraf spinal (keluar dari sumsum punggung), termasuk ganglion yang merupakan kumpulan badan sel saraf di luar susunan saraf pusat (Dellman and Brown, 1989).
o Tali saraf (nerve) merupakan gabungan fasikulus. Tiap fasikulus terdiri dari sejumlah serabut saraf yang memiliki selubung mielin dan ditunjang oleh neuroglia, disebut sel Schwann. Semua ini ditunjang oleh jaringan ikat. Sebuah fasikulus tali saraf dibatasi oleh perineurium yang terdiri dari dua komponen : perineurium fibrosa, suatu kulit luar yang terdiri dari jaringan ikat pekat; dan epitel perineural, suatu selubung dalam yang terdiri dari lapis konsentris majemuk mengandung epitel pipih selapis. (Dellman and Brown, 1989).
o Ganglion merupakan kumpulan dari badan sel saraf dalam jalinan serabut saraf. Ganglion spinal pada radiks dorsalis dan ganglion kranial dikenal sebagai ganglion sensori, karena banyak mengandungbadan sel saraf tipe unipolar dari neuron aferen. Badan sel tetap tipe bipolar pada ganglion saraf vestibulokoklearis. Ganglion serta serabut saraf yang menginervasi otot polos, otot jantung, alat jeroan (viscera) serta kelenjar disebut susunan saraf otonom. Ganglion otonom merupakan kumpulan dari badan sel saraf neuron multipolar dalam fasikulus saraf. Dalam alat jeroan terdapat ganglion otonom terminal yang mengandung beberapa badan sel saraf. Pada ganglion otonom, telodendron dari sinaps neuron praganglionik yang kolinergik pada daerah dendrit dari neuron pascaganglionik. Neuron pascaganglionik dibagi sebagai kolinergik, bila mampu mensintesis serta melepas asetilkolin, dan bersifat adrenergik, bila neurotransmitternya adalah norepinefrin/ noradrenalin (Dellman and Brown, 1989).
o Serabut saraf aferen bersifat sensori, karena menyalurkan rangsangan ke susunan saraf pusat. Neuron aferen memiliki tipe unipolar pada ganglion kraniospinal. Akson eferen berasal dari neuron tipe multipolar yang terdapat di susunan saraf pusat atau ganglion otonom (Dellman and Brown, 1989).
o Saraf somatik menginervasi kulit, otot kerangka, dan persendian. Saraf viseral menginervasi otot jantung, dan otot polos serta kelenjar. Jalur eferen viseral mencakup dua neuron. Pertama, praganglionik yaitu badan sel neuron yang ada di susunan pusat, dan yang kedua pascaganglionik yaitu badan selnya terdapat dalam ganglion otonom (Dellman and Brown, 1989).
o Ujung saraf eferen. Neuron eferen somatik menginervasi otot kerangka. Sitoplasma daerah ujung saraf mengandung banyak mitokondria dan gelembung sinaps cerah (diameter 40 nm). Fusimotor/ neuron motor gamma adalah tipe lain dari neuron eferen somatik. Neuron tersebut menginevasi serabut otot kecil dalam gelendong otot. Neuron kecil ini memiliki akson berselubung mielin yang berakhir sebagai ujung saraf dan membentuk sinaps majemuk sepanjang permukaan serabut otot. Sinaps neuron otonom praganglionik pada neuron pascaganglionik dalam ganglion otonom. Telodendron membentuk ujung gelembung khas untuk sinaps interneuron. Neuron otonom pascaganglionik memiliki akson tanpa selubung mielin yang menginervasi otot jantung, otot polos, dan kelenjar (Dellman and Brown, 1989).
o Reseptor. Akson Aferen melangsungkan informasi ke susunan saraf pusat dari reseptor atau dari organ sensori. Organ sensori merupakan susunan epitel sensori dan neuron yang mampu mendeteksi penglihatan, pendengaran, penciuman, dan rangsangan mengecap. Reseptor merupakan individual dan detector rangsangan mentebar dalam tubuh. Sebuah reseptor membentuk daerah dendrite dari suatu aferen neuron. Umumnya sebuah akson bercabang-cabang dan sebuah reseptor terletak pada tiap cabang terminal.
Reseptor dapat terbagi menurut berbagai jalur. Menurut lokasinya terdapat eksteroreseptor, proprioreseptor, dan enteroreseptor yang terdapat pada masing-masing permukaan tubuh berbentuk musculoskeletal. Menurut stimulus terdapat mekanoreseptor, kemoreseptor dan termoreseptor. Menurut strukturnya, ada reseptor berrkapsula dan tanpa kapsula. Berikut ini pembagian reseptor secara umum :
- Ujung saraf bebas (free nerve endings) terdapat di seluruh tubuh. Mampu mendeteksi rasa sakit, panas, dingin atau sentuhan seperti halnya terhadap rangsangan setengah sadar untuk aktifitas reflex. Reseptor berbentuk cabang terminal tanpa selubung myelin tetapi dibungkus oleh lamina basalis.
- Terminal folikel rambut (hair follicle terminals), yang mampu mendeteksi perubahan posisi bulu tubuh, berasal dari akson berselubung myelin yang bercabang intensifdan menginervasi folikel rambut. Tiap folikel diitari oleh pleksus saraf tanpa selubung myelin dengan membentuk ujung saraf bebas pada epitel folikel. Pada daerah tertentu terdapat bentukan khusus untuk mendeteksi sentuhan missal pada kumis dan sungut (vibrissae).
- Korpuskulus Merkel (nonencapsulated tactile corpuscles), berkumpul pada dasar elevasi kulit yang disebut tactile pad. Tiap korpuskulus mengandung sel epiteloid (Sel Merkel) yang memiliki ujung saraf, berasal dari akson berselubung myelin yang menyebar di daerah tertentu yang bersifat reseptif .
- Korpuskulus Meissner (encapsulated tactile corpuscles). Korpuskulus yang memiliki kapsula merupakan reseptor terhadap sentuhan dan terdapat pada papil mikroskopik kulit langsung di bawah stratum germinativum.
- Korpuskulus Vater dan Paccini (lamellar corpuscles). Korpuskulus yang memiliki lamel-lamel dam lokasinya mentebar di seluruh tubuh. Reseptor ini peka terhadap tekanan dan rangsangan getaran.
- Korpuskulum Herbst, merupakan korpuskulum berlamela berukuran kecil berfungsi sebagai reseptor tekananpada lidah dan paruh burung.
- Korpuskulum Ruffini, tersusun dari cabang-cabang prosesus neuron yang tersusun dari masa granuler yang dibungkus dengan kapsula jaringan ikat. Berfungsi sebagai reseptor panas.
- Korpuskulum Krause, bentuknya bulat terletak di kulit dan membrane mukosa terutama di konjuctiva. Berfungsi sebagai reseptor dingin.
- Korpuskulum Golgi-Mazzoni, merupakan reseptor tekanan pada kulit tanpa bulu, di Epidermis dermis dan membrane mukosa.di Dermis gland penis bantalan jari carnivore dan jaringan ikat yang berhubungan dengan kuku.
- Korpuskulum Genitalis, hamper sama dengan Golgi-mazzoni tetapi ukurannya lebih besar merupakan reseptor tekanan ditemukan pada klistoris dan gland penis.
- Gelendong neurotendon (tendon Golgi), terdapat pada daerah hubungan otot-tendon yang dirangsang oleh regangan. Berasal dari akson berselubung myelin, reseptor terdiri dari cabang terminal yang tersebar pada berkas serabut kolagen yang dibingkus oleh kapsula epitel perineural yang berisi cairan.
- Gelendong neuromuscular (Muscle Spindle). Dapat dikualifikasikan sebagai organ indra yang terdapat dalam otot. Mengandung inervasi saraf aferen dan saraf eferen dan dua macam serabut otot intrafusal yang terdiri dari kantung inti dan serabut rantai inti (Delmann and Brown, 1989).

2. Bagaimana fungsi sistem syaraf tepi?
a. Untuk menghantarkan impuls dari reseptor ke pusat saraf (saraf aferen) dan selanjutnya dari pusat saraf ke efektor (saraf eferen)
b. Sistem saraf otonom berfungsi untuk menyesuaikan dengan kondisi luar
c. Sistem saraf somatic berfungsi untuk menyesuaikan dengan lingkungan internal (homeostatis).
d. Simpatetik menginervasi: kelenjar keringat, pembuluh darah pada kulit, cor, pulmo, pembuluh dari thorac, gastrointestinal, urogenital.
- Meningkatkan metabolism
- Meningkatkan respirasi dan dilatasi saluran respirasi
- Mengaktifkan cadangan energy
- Menurunkan fungsi digesti dan urinasi
- Meningkatan denyut dan tekanan darah
e. Parasimpatethic membentuk nervus planchnic, menginervasi otot polos dan kelenjar pada colon, ureter, vesica urinaria dan organ reproduksi
- Menurunkan metabolism
- Menurunkan deenyut jantung dan tekanan darah
- Meningkatkan secresi oleh kelenjar saliva dan digesti
- Meningkatkan motilitas dan aliran darah di traktus digestivus
- Stimulasi urinasi dan defekasi
f. Berikut adalah kerja stimulasi otonom (Simpatik dan Parasimpatik) yang bersifat antagonis
Organ Rangsangan Simpatetik Rangsangan parasimpatetik

Iris (otot mata) Dilatasi pupil Konstriksi pupil
Otot silier Relaksasi (akomodasi panjang jarak jauh) Kontraksi (akomodasi panjang jarak dekat)
Kelenjar salivarius Menurunkan produksi saliva (hambatan sekresi) Meningkatkan produksi saliva

Mukosa Oral/nasalis Menurunkan produksi mukus Meningkatkan produksi mucus
Jantung Meningkatkan laju jantung Meningkatkan laju jantung
Paru-paru Merelaksasikan otot bronchial (dilatasi bronki) Kontraksi otot bronchial
Lambung Menurunkan peristaltik Meningkatkan sekresi cairan lambung dan motilitas
Usus halus Menyrunkan motilitas Meningkatkan digesti
Usus besar Penurunan motilitas Meningkatkan sekresi dan motilitas
Hati Peningkatan pengubahan glikogen menjadi glukosa
Otot balder Kontraksi sphincter (relaksasi dinding) Relaksasi sphincter (kontraksi dinding )
ginjal Penurunan sekresi urin Peningkatan sekresi urin
Otot pembuluh darah Vasokonstriksi (vasodilatasi otot rangka dan arteri dan arteri koroner) Vasodilatasi
Adrenal medula Sekresi norepinefrin dan epinefrin
Vesika urinaria Merelaksasikan dindimg Vesika urinaria dan menutup sphincter Merelaksasikan sphincter
(Astuti, 2007), (Frandson, 1992).

3. Bagaimana mekanisme penghantaran impuls?
Impuls dapat dihantarkan melalui beberapa cara, yaitu:
1. Penghantaran Impuls Melalui Sel Saraf
  • Penghantaran impuls baik yang berupa rangsangan ataupun tanggapan melalui serabut saraf (akson) dapat terjadi karena adanya perbedaan potensial listrik antara bagian luar dan bagian dalam sel. Pada waktu sel saraf beristirahat, kutub positif terdapat di bagian luar dan kutub negatif terdapat di bagian dalam sel saraf. Diperkirakan bahwa stimulus pada indra menyebabkan terjadinya pembalikan perbedaan potensial listrik sesaat. Perubahan potensial ini (depolarisasi) terjadi berurutan sepanjang serabut saraf. Kecepatan perjalanan gelombang perbedaan potensial bervariasi antara 1 sampai dengart 120 m per detik, tergantung pada diameter akson dan ada atau tidaknya selubung mielin.
  • Bila impuls telah lewat maka untuk sementara serabut saraf tidak dapat dilalui oleh impuls, karena terjadi perubahan potensial kembali seperti semula (potensial istirahat). Untuk dapat berfungsi kembali diperlukan waktu 1/500 sampai 1/1000 detik.
  • Energi yang digunakan berasal dari hasil pemapasan sel yang dilakukan oleh mitokondria dalam sel saraf.
  • Stimulasi yang kurang kuat atau di bawah ambang (threshold) tidak akan menghasilkan impuls yang dapat merubah potensial listrik. Tetapi bila kekuatannya di atas ambang maka impuls akan dihantarkan sampai ke ujung akson.
2. Penghantaran Impuls Melalui Sinapsis
  • Titik temu antara terminal akson salah satu neuron dengan neuron lain dinamakan sinapsis. Di dalam sitoplasma tonjolan sinapsis terdapat struktur kumpulan membran kecil berisi neurotransmitter; yang disebut vesikula sinapsis. Neuron yang berakhir pada tonjolan sinapsis disebut neuron pra-sinapsis. Membran ujung dendrit dari sel berikutnya yang membentuk sinapsis disebut post-sinapsis. Bila impuls sampai pada ujung neuron, maka vesikula bergerak dan melebur dengan membran pra-sinapsis. Kemudian vesikula akan melepaskan neurotransmitter berupa asetilkolin.
  • Asetilkolin kemudian berdifusi melewati celah sinapsis dan menempel pada reseptor yang terdapat pada membran post-sinapsis. Penempelan asetilkolin pada reseptor menimbulkan impuls pada sel saraf berikutnya. Bila asetilkolin sudah melaksanakan tugasnya maka akan diuraikan oleh enzim asetilkolinesterase yang dihasilkan oleh membran post-sinapsis.
  • Bagaimanakah penghantaran impuls dari saraf motor ke otot? Antara saraf motor dan otot terdapat sinapsis berbentuk cawan dengan membran pra-sinapsis dan membran post-sinapsis yang terbentuk dari sarkolema yang mengelilingi sel otot (Wayan. 2008).

4. Jelaskan apa yang dimaksud neurotransmitter?
o Neurotransmitter adalah substansi kimia yang berfungsi untuk menyampaikan, mengamplifikasi dan memodulasi signal/ message antar neuron, atau antara neuron dengan sel yang lain.
o Ciri-ciri :
- Terdapat prekusor dan atau enzim yang mensinteis pada presynaps
- Senyawa neurotransmitter terdapat pada komponen presynaps
- Tersedia pada jumlah yang memadai
- Mempunyai reseptor pada bagian postsynaps
- Terdapat mekanisme biokimiawi untuk menginaktivasi

o Jenis-jenis :
- Neurotransmiter Molekul kecil
a. Acethylcholine (Ach)
b. Monoamin: - epinephrin (E)
- norepinephrin (NE)
- dopamin (DA)
- serotonin
- melatonin
c. Oligo aminoacid : - GABA
- Aspartat, Glutamat,
d. Purin : ATP, GTP
e. Cannabinoid endogen (as. Lemak)
- Histamin
- Neuritransmitter ion tunggal
Contoh : Ion Zn
- Peptida neuroaktif
a. Vasopresin
b. Stomatostatin
c. Neurotensin
d. Hormon LH
e. Insulin
- Neurotransmitter gas
a. NO
b. CO (Haryanto, 2009).
a) Zat kimia yang terdapat dari neurotransmitter:
  • Asetilkoin (C7H16O2N)
Salah satu neurotransmiter yang umum ditemukan pada invertebrata maupun pada vertebrata. Pada sistem saraf pusat vertebrata. Pada sistem syaraf pusat vertebrata,asetilkolin dapat berfungsi sebagai inhibitoris atau eksitoris, yang bergantung pada jenis reseptor. Pada persambungan neuromoskuler vertebrata, yaitu sinapasis antara neuron motoris dan sel otot rangka, asetilkolin dilepaskan dari terminal sinpatik neuron motoris tersebut. Asetilkolin ini akan berikatan dengan reseptor yang merangsang membran plasma sel otot. Perangsangan tersebut bersifat eksitoris, yang mendepolarisasikan membran sel otot pascasinaptik. jenis reseptor asetilkolin kedua yang terdapat pada otot jantung mengaktifkan suatu jalur transduksi sinyal protein G-nya mempunyai dua pengaruh, yaitu menghambat adenili siklase dan membuka saluran K+ pada membran sel otot, sehngga kurang mampuuntuk membangkitkan potensial aksi. Kedua pengaruh itu mengurangi kekuatan dan laju kontraksi sel otot jantung (Campbell, 2003).
  • Noradrenalin
Terdapat pada sistem parasimpatik. Mempunyai efek membangunkan, terjaga.
  • Serotinin (C10H12N2O)
Serotonin (5-hydroxytryptamine, atau 5-HT) adalah suatu neurotransmitter monoamino yang disintesiskan dalam neuron neuron serotonergis dalam sistem saraf pusat (CNS) dan sel-sel enterochromaffin dalam saluran pencernaan. Serotonin disintesa pada tractus gastrointestinal (90%) dan disimpan pada trombosit. Berperan penting pada thermoregulasi, suasana hati, tidur, muntah, seksualitas, nafsu makan. Kekurangan serotonin menyebabkan beberapa gangguan depresi, gelisah, cemas, migrain, irritable bowel syndrome, tinnitus, fibromyalgian, gangguan bipolar (Haryanto, 2009).
  • Dopamine (C8H11NO2)
Dopamin merupakan hormon dan neurotransmitter pada berbagai jenis hewan. Secara struktural Dopamin merupakan : 4-(2-aminoethyl) benzene-1,2-diol. Berfungsi untuk menghambat pelepasan Prolaktin. Beraksi pada sistem saraf simpatis, untuk meningkatkan detak jantung dan tekanan darah berperan juga dalam penentuan tingkah laku, kognisi, aktivitas motorik, motivasi, tidur, mood, perhatian (Haryanto, 2009).

5. Sebutkan macam-macam gerak refleks?
Berdasarkan tempat konektornya (sel saraf penghubung) reflex dibedakan menjadi dua yaitu;
  • Reflex tulang belakang (Refleks Spinalis) yaitu jika konektor terdapat di sumsum tulang belakang. Misalnya, gerakan menarik anggota tubuh bila menyentuh benda panas, mengangkat kaki bila menginjak duri.
  • Reflex otak (Refleks Cranialis), yaitu jika konektornya terdapat di otak. Misalnya, gerakan mata terpejam karena pengaruh cahaya (Frandson, 1992).


III. Daftar Pustaka
Astuti, Pudji. 2007. Sistem Saraf dan Otot. Yogyakarta : Fakultas Kedokteran Hewan UGM
Cunningham, James. 2002. Textbook of Veterinary Physiology. Philadelphia : W. B. Saunders Company
Dellman and Brown, 1989. Buku Teks Histologi Veteriner. Jakarta : Universitas Indonesia
Frandson . 1992. Anatomi dan Fisiologi Ternak. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press
Frandson. 2003. Anatomy and Physiology of Farm Animal. United States of America : Lippincot Williams&Wilkins
Haryanto, Aris. 2009. Neurotransmitter. Yogyakarta : Fakultas Kedokteran Hewan UGM
Johnson, Kurt E. 1994. Histologi dan Biologi Sel. Jakarta Barat : Binarupa Aksara
Rachman, Dedi. 2004. Intisari Biologi. Bandung : Pustaka Setia
Wayan. 2008. Mekanisme Penghantaran Impuls. Yogyakarta: FKH UGM

1 komentar:

satri aisyah mengatakan...

sangat membantu....thanks...

Poskan Komentar

 
© 2009 Diary Veteriner | Powered by Blogger | Built on the Blogger Template Valid X/HTML (Just Home Page) | Design: Choen | PageNav: Abu Farhan