Homeostasis, Patologi Sirkulasi Darah

I. Learning Objective
  1. Definisi dan fungsi dari homeostasis?
  2. Mekanisme keseimbangan asam basa?
  3. Apa faktor yang mepengaruhi keseimbangan asam basa?
  4. Apa saja patologi pada sistem sirkulasi darah?

II. Pembahasan
1. Definisi dan fungsi dari homeostasis?
  • Definisi
Homeostasis adalah semua proses yang terjadi dalam organisme hidup untuk mempertahankan lingkungan interna didalam kondisi agar optimal bagi kehidupan organisme yang bersangkutan (Guyton, 1996 ).
Homeostasis dapat di artikan kondisi lingkungan dalam tubuh hewan yang tetap seimbang yang harus selalu diupayakan oleh hewan (Isnaeni, 2006).

Keseimbangan asam-basa terkait dengan pengaturan pengaturan konsentrasi ion H bebas dalam cairan tubuh. pH rata-rata darah adalah 7,4, pH darah arteri 7,45 dan darah vena 7,35. Jika pH darah < 7,35 dikatakan asidosis, dan jika pH darah > 7,45 dikatakan alkalosis. Ion H terutama diperoleh dari aktivitas metabolik dalam tubuh. Ion H secara normal dan kontinyu akan ditambahkan ke cairan tubuh dari 3 sumber, yaitu:
Pembentukan asam karbonat dan sebagian akan berdisosiasi menjadi ion H dan bikarbonat
  • Katabolisme zat organik
  • Disosiasi asam organik pada metabolisme intermedia, misalnya pada metabolisme lemak terbentuk asam lemak dan asam laktat, sebagian asam ini akan berdisosiasi melepaskan ion H. (Kuntarti, 2005)
Homeostasis adalah pengaturan kondisi-kondisi statis atau konstan dalam lingkungan dalam tubuh. Untuk dapat bertahan hidup, hewan harus menjaga stabilitas lingkungan internalnya, antara lain keasaman atau pH, suhu tubuh, kadar garam, kandungan air, dan kandungan nutrien atau zat gizi.

Perubahan kondisi lingkungan internal dapat timbul karena dua hal, yaitu adanya perubahan aktivitas sel tubuh dan perubahan lingkungan eksternal yang berlangsung terus menerus. Untuk menyelenggarakan seluruh aktivitas sel dalam tubuhnya, hewan selalu memerlukan pasokan berbagai bahan dari lingkungan luar secara konstan, misalnya oksigen, nutrien, dan garam. Sementara itu, aktivitas sel juga menghasilkan berbagai macam hasil sekresi sel yang bermanfaat dan berbagaiu zat sisa, yang dialirkan ke lingkungan interna (yaitu cairan ekstraseluler). Apabila aktivitas sel berubah, pengambilan zat dari lingkungan eksternal dan pengeluaran berbagai zat dari dalam sel ke lingkungan internal juga berubah. Perubahan aktivitas sel semacam itu akan mengubah keadaan lingkungan internal. Perubahan lingkungan internal yang ditimbulkan oleh sebab mana pun harus selalu dikendalikan agar kondisi hemostasis selalu terjaga.

  • Fungsi
Homeostasis berfungsi dalam menjaga stabilitas lingkungan internal secara konstan relatif yang dinamis, untuk menyelenggarakan seluruh aktivitas sel dalam tubuh, yang memerlukan berbagai bahan dari lingkungan secara konstan, misalnya oksigen, nutrien, dan garam. Perubahan lingkungan internal dalam tubuh dapat mempengaruhi aktivitas sel dalam tubuh yang menghasilkan bermacam-macam hasil sekresi sel bermanfaat dan berbagai zat sisa yang dialirkan ke lingkungan internal berupa cairan ekstraseluler. Oleh karena itu jika aktivitas sel dalam tubuh terganggu maka pengambilan zat dari lingkungan luar dan pengeluaran zat dari dalam tubuh akan berubah, dan perubahan tersebut akan mengubah keadaan lingkungan internal. (Isnaeni,. W. 2006).

2. Mekanisme keseimbangan asam basa?
Mekanisme ini diatur oleh otak terutama hipotalamus, yang bila terangsang akan merangsang koordinasi tubuh. Proses ini akan terjadi terus menerus hingga lingkungan dinamis dalam tubuh akan berada pada jumlah yang normal (Guyton, 1996 ).
Beberapa proses-proses yang terlibat dalam keseimbangan asam basa ialah:
  • Umpan balik positif
Peristiwa yang terjadi pada sistem umpan balik positif yaitu berlawanan dengan yang negative. pada sistem umpan balik positif perubahan awal oleh suatu variabel akan menghasilkan perubahan yang semalin besar, misalnya proses pembekuan darah. Mekanisme umpan balik positif tidak terlibat dalm proses menjaga kondisi homeostasis, tetapi terlibat dalam penyelenggaraan fungsi fisiologi tertentu (Isnaeni, 2006).
Contoh demam, badan akan bertambah panas untuk membunuh bakteri dan virus.
  • Umpan balik negatif
Sistem umpan balik negatif dapat didefinisikan sebagai perubahan suatu variable yang dilawan oleh tanggapan yang cenderung mengembalikan perubahan tersebut ke keadaan semula (Isnaeni, 2006).
Contoh keadaan panas, badan akan diatur untuk mengurangi panas badan. 
Cara Kerja Sistem Umpan Balik Negatif:
Cara berfungsinya sistem umpan balik negatif dalam mengendalikan kondisi homeostasis (kususnya dalam menjaga homeostasis suhu tubuh)yaitu:
  • Suhu lingkungan
  • Variabel yang dikendalikan→termoreseptor→pusat pengatur suhu→ efekror menghasilkan respon berupa: Aktivitasotot meningkat (diperoleh panas),vasokosntriksi(memperkecil pelepasan panas)
  • Lengkung Umpan Balik Negatif
  • Pengendalian homeostasis berlangsung melalui sistem umpan balik, yaitu umpan balik positif dan umpan balik negative. Sistem umpan balik negative didefinisikan sebagai perubahan suatu variable yang dilawan oleh tanggapan yang cenderung mengembalikan perubahan tersebut ke keadaan semula. Peristiwa yang terjadi pada sistem umpan balik positif berlawanan dengan system umpan balik negative. Mekanisme umpan balik positif tidak terlibat dalam proses menjaga homeostasis, tetapi terlibat dalam penyelenggaraan fungsi fisiologis tertentu antara lain proses pembekuan darah dan sel saraf. (Isnaeni,. W. 2006).
System umpan balik tersusun atas tiga komponen utama, yaitu reseptor, pusat integrasi, dan efektor. Antara resptor danpusat integrasi dihubungkan oleh saraf sensorik, sedangkan antara pusat integrasi dan efektor dihubungkan oleh saraf motorik. Reseptor berperan sebagai pemantau perubahan yang terjadi di lingkungan internal dan eksternal. Reseptor berfungsi sebagai transuder biologis, yaitu komponen structural dalam tubuh hewan yang memiliki kemampuan untuk mengubah suatu bentuk energy menjadi bentuk energy lain. Dalam system umpan balik, reseptor bekerja dengan cara mengubah suatu bentuk energy yang dideteksi dari lingkungan menjadi potensial aksi. Potensial aksi yang terbentuk akan menjalar melalui serabut saraf afferent menuju pusat integrasi. Peran pusat integrasi yaitu untuk membandingkan informasi yang diterimanya dengan keadaan yang searusnya. Efektor yaitu struktur dalam tubuh hewan yang berfungsi sebagai organ penghasil tanggapan biologis, yang dapat berupa sel otot atau kelenjar dan bekerja atas perintah dari pusat integrasi. (Isnaeni,. W. 2006).
  • Pengaturan pH Darah
pH darah dipertahankan stabil pada semua ompartemen ciran dimana nilai pH ICF (cairan intraseluler) sekitar 7,0 – 7,2. pH konstan merupakan kepentingan vital untuk organisme; bentuk molekuler protein, misalnya, dan karena itu struktur pokok sel yang normal adalah tergantung pH. Nilai pH diluar 7,0-7,8 adalah bertentangan dengan kehidupan.

Ketetapan nilai pH dipelihara leh buffer, yang berperan dengan menetralisasi sebagian asa dan basa yang berasal dari makanan dan metabolisme. Buffer utama cairan tubuh adalah sistem
CO2 + H2O ↔ HCO3¯ + H+
Untuk nilai pH tertentu dalam larutan, perbandingan konsentrasi pada setiap buffer “basa” (misal HCO3¯) terhadap buffer “asam” yang sesuai ( dalam contoh ini CO2) adalah tetap.
Artinya sistem buffer CO2- HCO3¯ dalam darah bahwa ia tidak hanya dapat membuffer ion H+, seperti sistem buffer lainnya tetapi komponennya diubah-ubah tanpa tergantung satu sama lain oleh organ tertentu; CO2 diproduksi trus menerus sebagai produk akhir metabolisme, dan konsentrasinya atau tekanan parsial (PCO2) dalam darah terutama dikendalikan oleh paruparu. PCO2 dapat dibuat tetap dengan mengubah ventilasi, walaupun bla diproduksi erlebihan atau bila CO2 dipergunakan dalam membuffer basa. Ginjal (bekerja sama dengan hati) mengndalikan HCO3¯.
Buffer lain yang penting dalam hemoglobin (Hb) dalam eritrosit:
HbH ↔ Hb¯+ H+
HbO2H ↔HbO2¯ + H+
HbO2 yang relatif bersifat kurang mengambil ion H+ dan lebih banyak melepaskan merka daripada bentuk Hb yang doksigenasikan dan bersifat kurang asam. Karena itu bila, misalnya, bila Hb yang dioksigenasikan dalam paru- paru menjadi HbO2, ion H+ dibebaskan. Mereka sebagianm mengkompensasi terhadap peningkatan pH yang disini disebabkan ole pembuangan CO2 respirasi.
pH plasma dan sel darah merah, yang berarti dari darah, dapat diubah oleh berbagai faktor:
  • Ion H+ dapat angsung ditambah, misalnya dari metabolisme ( asam hidroklorat, asamlaktat, asam keto, asam sulfurat, dll.) atau dapat dihilangkan dari darah misalnya dengan eksresi H+ melalui muntah;
  • Ion OH¯ dapat ditambahkan, misalnya dengan garam (basa) asam lemah;
  • Konsentrasi CO2 dapat diubah, misalnya melaui perubahan produksi CO2 dalam metabolisme atau melalui ekspirasi CO2 dalam paru-paru. Bila konsentrasi CO2 turun, nilai pH meningkat (basa) dan sebaliknya;
  • Konsentrasi bikarbonat (HCO3¯) terutama dapt berubah, misalnya karena eksresi HCO3¯ oleh ginjal atau kehilangan HCO3¯ karena diare. Peningkata atau penurunan HCO3¯ mengakibatkan peningkatan atau penurunan pH.
  • Osmoregulasi
Sel dari semua binatang multiseluler tidak hanya mengandung air (cairan intraseluler, ICF) tetapi juga dikelilingi oleh cairan, lingkungan internal. Lingkungan air ini, cairan ekstraseluler atau ECF, adalah penghubung mata rantai antara dunia luar dengan ruang bgian dalam sel; ia mengangkut bahan gizi, membuang produk , dan membawa pesan humoral.

Dengan pengecualian yang jarang, ICF dan ECF tubuh mempunyai osmolalitas sekitar 290 mosm/kg H2O. Masukan NaCl atau kehilangan air, misalnya, menyebabkan penngkatan osmolalitas ECF. Karena itu dalam keseimbangan dengan ICF, efluks air dari ICF harus meruapakanakibat. Untuk melindungi sel dari fluktuasi yang lebih besar dalam vlum dan osmolalitas , osmolalitas ECF harus dijaga ketat. Fungsi ini dikendalikan oleh osmoresptor (terutama di hipotalamus), ormon adiuretin (= ADH = vasopresin), dan ginjal, organ target.
  • Termoregulasi
Termoregulasi adalah suatu sistem pengaturan panas pada tubuh makhluk hidup. Suhu tubuh tergantung pada keseimbangan antara panas yang dihasilkan dan yang dikeluarkan. Dalam hal ini, panas yang dihasilkan (produksi panas) meliputi aktivitas metabolik dan aktivitas otot. Panas yang berasal dari aktivitas metabolik dengan jalan pemecahan karbohidrat, lemak, dan protein. Sedangkan aktivitas otot merupakan salahsatu usaha penambahan produksi panas, dimana lebih dari 80 % panas tubuh diprodusi di dalam otot skelet selama terjadi aktivitas otot.
Pengaturan suhu tubuh dilakukan oleh suatu sistem pengatur suhu yang tersusun oleh tiga komponen yaitu: Hipothalamus, syaraf eferen dan efektor termoregulator, termoreseptor dan syaraf aferen. Fungsi utama sistem tersebut untuk menjaga supaya suhu selalu berada dalam zona termoneutral atau sebagai termostas dengan hipothalamus sebagai pengontrolnya. Dalam hipothalamus terdapat reseptor yang mendeteksi panas dan dingin yang berlokasi di pars anterior dan pars posterior. Pars anterior mengatur pembuangan panas serta mencegah hilangnya panas yang berlebihan dalam tubuh, sedangkan bagian pars posterior untuk mengatur produksi panas.
Vertebrata ektotermal adalah dari kelas amfibi, reptil dan sebagaian besar pisces. Vertebrata endotermal adalah dari kelas mamalia, aves dan sebagian kecil pisces(tuna, hiu putih, ikan pedang)

Efektor, menghasilkan respons berupa:
  1. Aktivitas otot meningkat
  2. Vasokontriksi

3. Apa faktor yang mepengaruhi keseimbangan asam basa?
  1. Konsentrasi ion hidrogen [H+]
  2. Konsentrasi ion bikarbonat [HCO3-]
  3. pCO2
Berikut perbandingan peranan masing-masing faktor dalam diagnosis gangguan asam basa :
  • Bila konsentrasi H+ meningkat, maka pH turun disebut asidosis
  • Bila konsentrasi H+ turun, maka pH naik disebut alkalosis
  • Bila HCO3- berubah secara signifikan dalam kondisi tersebut, disebut suatu keadaan metabolik
  • Bila pCO2 berubah secara signifikan dalam kondisi tersebut, disebut suatu keadaan respiratorik

4. Apa saja patologi pada sistem sirkulasi darah?
  • Kongesti (Hiperemia)
Kongesti adalah keadaan dimana terdapat darah secara berlebihan (peningkatan jumlah darah) di dalam pembuluh darah pada daerah tertentu. Kata lain untuk kongesti adalah hiperemia.
Pada dasarnya terdapat dua mekanisme dimana kongesti dapat timbul :
1. Kongesti aktif
Kenaikan jumlah darah yang mengalir ke daerah itu dari biasanya. Kenaikan aliran darah lokal ini disebabkan oleh karena adanya dilatasi arteriol yang bekerja sebagai katup yang mengatur aliran ke dalam mikrosirkulasi lokal. Kongesti aktif ini biasanya terjadi dengan waktu yang relatif singkat.
Contoh : Warna merah padam pada wajah pada saat marah/ malu, yang pada
dasarnya adalah vasodilatasi yang timbul akibat respon terhadap stimulus neurogenik.
2. Kongesti pasif
Penurunan jumlah darah yang mengalir dari daerah yang disebabkan oleh adanya tekanan pada venula-venula dan vena-vena yang mengalirkan darah dari jaringan. Selain sebab lokal tadi, kingesti pasif juga dapat terjadi akibat sebab sistemik, sebagai contoh adalah kegagalan jantung dalam memompa darah yang mengakibatkan gangguan aliran vena. Berdasarkan waktu serangannya, kongesti pasif dibagi 2, yaitu:
  1. Kongesti pasif akut : berlangsung singkat, tidak ada pengaruh pada jaringan yang terkena.
  2. Kongesti pasif kronis : berlangsung lama, dapat terjadi perubahan- perubahan yang permanen pada jaringan, terjadi dilatasi vena.
Contoh kongesti pasif adalah varises.
  • Edema
Edema adalah penimbunan cairan secara berlebihan diantara sel-sel tubuh atau di dalam berbagai rongga tubuh (beberapa ahli juga memasukkan dalam definisi itu penimbunan cairan berlebihan di dalam sel). Jika edema mengumpul dalam rongga, biasanya dinamakan efusi, misalnya efusi perikardium, efusi pleura. Penimbunan cairan di dalam rongga peritoneum biasanya diberi nama asites. Sedangkan edema umum atau menyeluruh disebut anasarka.
Etiologi edema ada beberapa, yaitu:
  1. Tekanan hidrostatik
  2. Obstruksi saluran limfe
  3. Kenaikan permeabilitas dinding pembuluh
  4. Penurunan konsentrasi protein
Dalam edema, cairan yang tertimbun digolongkan menjadi 2, yaitu :
1) Transudat : yaitu cairan yang tertimbun di dalam jaringan karena bertambahnya permeabilitas pembuluh terhadap protein.
2) Eksudat : yaitu cairan yang tertimbun karena alasan-alasan lain dan bukan akibat dari perubahan permeabilitas pembuluh.
Akibat dari edema adalah sebagai petunjuk untuk mengetahui ada sesuatu yang terganggu dalam tubuh kita. Sebagai contoh adalah pada kasus payah jantung kongestif, terdapat edema pada mata kaki si penderita. Hal ini menjadi indikator adanya kehilangan protein. Edema juga berbahaya jika mengenai otak, otak akan membengkak dan tertekan pada tulang pembatas tengkorak, peningkatan tekanan intrakranial akan membahayakan aliran darah dalam otak dan dapat menimbulkan kematian.
  • Perdarahan
Perdarahan adalah keluarnya darah dari sistem kardiovaskuler, disertai penimbunan dalam jaringan atau ruang tubuh atau disertai keluarnya darah dari tubuh. Untuk menyatakan berbagai keadaan pendarahan digunakan istilah-istilah deskriptif khusus. Penimbunan darah pada jaringan disebut hematoma. Jika darah masuk ke dalam berbagai ruang dalam tubuh, maka dinamakan menurut ruangannya.
Misalnya : hemoperikardium, hemotoraks, hemoperitoneum, hematosalping.
Penyebab perdarahan yang paling sering dijumpai adalah hilangnya integritas dinding pembuluh darah yang memungkinkan darah keluar, dan hal ini sering disebabkan oleh trauma eksternal contohnya cedara yang disertai memar. Dinding pembuluh bisa pecah akibat penyakit maupun trauma. Penyebab lainnya adalah adanya gangguan faktor pembekuan darah.
  • Trombosis
Proses pembentukan bekuan darah atau koagulum dalam sistem kardiovaskuler selama manusia masih hidup, disebut trombosis. Koagulum darah dinamakan trombus. Terdapat tiga keadaan dasar dimana bekuan terbentuk secara tidak normal, yaitu :
a. Adanya kelainan dinding dan lapisan pembuluh
b. Kelainan aliran darah
c. Peningkatan daya koagulasi darah sendiri
  • Embolisme
Embolisme adalah transportasi massa fisik yang terbawa dalam aliran darah dari satu tempat ke tempat lain dan tersangkut di tempat baru. Massa fisik itu sendiri dinamakan emboli. Emboli berasal dari :
  1. Emboli pada manusia yang paling sering dijumpai berasal dari trombus dan dinamakan tromboemboli.
  2. Pecahan jaringan dapat menjadi emboli bila memasuki sistem pembuluh darah, biasanya dapat terjadi pada trauma.
  3. Sel-sel kanker dapat menjadi emboli, cara penyebaran penyakit yang sangat tidak diharapkan.
  4. Benda asing yang disuntikkan ke dalam sistem kardiovaskular.
  5. Tetesan cairan yang terbentuk dalam sirkulasi akibat dari berbagai keadaan atau yang masuk ke dalam sirkulasi melaui suntikan dapat menjadi emboli.
  6. Gelembung gas juga dapat menjadi emboli.
Emboli dalam tubuh terutama berasal dari trombus vena, paling sering pada vena profunda di tungkai atau di panggul. Karena keadaan anatomis, emboli yang berasal dari trombus vena biasanya berakhir sebagai emboli arteri pulmonalis.
Akibat dari emboli :
  1. Jika fragmen trombus yang sangat besar menjadi emboli maka sebagian besar suplai arteri pulmonalis dapat tersumbat dengan mendadak. Hal ini dapat menimbulkan kematian mendadak.
  2. Sebaliknya, emboli arteri pulmonalis yang lebih kecil dapat tanpa gejala, mengakibatkan perdarahan paru-paru sekunder karena kerusakan vaskular atau dapat mengakibatkan nekrosis sebagian dari paru-paru.
  • Aterosklerosis
Aterosklerosis atau ”pengerasan arteri” merupakan fenomena penyakit yang sangat penting pada kebanyakan negara maju. Istilah aterosklerosis sebenarnya meliputi setiap keadaan pembuluh arteri yang mengakibatkan penebalan atau pengerasan dinding.
Etiologi dan Insidens Aterosklerosis
Laju peningkatan ukuran dan jumlah ateroma dipengaruhi oleh berbagai faktor.
  1. Faktor genetik tertentu penting, dan aterosklerosis serta komplikasinya sering cenderung terjadi dalam keluarga.
  2. Orang dengan kadar kolesterol yang meninggi ( Hiperkolesterol )
  3. Orang yang menderita D.M. (Diabetes Melitus) seringkali peka akan aterosklerosis.
  4. Tekanan darah merupakan faktor penting bagi insiden dan beratnya aterosklerosis. Pada umumnya penderita hipertensi akan menderita aterosklerosis lebih awal dan lebih berat dan beratnya penyakit mempunyai hubungan dengan tekanan darah, walaupun dalam batas normal.
  5. Faktor risiko lain di dalam perkembangan aterosklerosis adalah merokok. Merokok merupakan faktor lingkungan utama yang menyebabkan peningkatan beratnya aterosklerosis.
Akibat Aterosklerosis
Akibat aterosklerosis sebagian bergantung pada ukuran arteri yang terserang.
  1. Jika arteri berukuran sedang, aterosklerosis lambat laun dapat mengakibatkan penyempitan atau obstruksi total. Komplikasi aterosklerosis dapat mengakibatkan penyumbatan mendadak. (Trombosis cenderung menimbulkan penyumbatan dalam arteri kecil ataupun ukuran sedang, tetapi mungkin dalam bentuk endapan mural yang relatif tipis pada pembuluh besar seperti aorta).
  2. Pembentukan trombus pada intima yang kasar, yang ditimbulkan oleh bercak aterosklerosis.
  3. Komplikasi lain aterosklerosis adalah perdarahan ke pusat bercak yang lunak
  4. Komplikasi lain yang dapat mengakibatkan penyumbatan arteri akut adalah ruptur bercak disertai pembengkakan kandungan lipid yang lunak ke dalam lumen dan penyumbatan pada bagian hilir pembuluh yang lebih sempit.
  5. Kerusakan tunika media yang dapat mengakibatkan kemungkinan terbentuknya ”aneurisma aterosklerosis” yang merupakan penggelembungan dinding arteri yang lemah.
  • Iskemia dan Infark
Iskemia adalah suplai darah yang tidak memadai ke suatu daerah/jaringan. Jika jaringan dibuat iskemik, jaringan tersebut akan menderita karena tidak mendapat suplai oksigen dan zat-zat makanan yang dibutuhkan. Setiap hal yang mempengaruhi aliran darah dapat menimbulkan iskemia jaringan. Sebab yang paling jelas adalah obstruksi lokal arteri.
Pengaruh iskemia bervariasi tergantung pada intensitas iskemianya, kecepatan timbulnya, dan kebutuhan metabolik pada jaringan itu. Akibat dari Iskemik :
  1. Pada beberapa keadaan iskemia, biasanya yang mengenai jaringan otot, rasa sakit dapat merupakan gejala penurunan suplai darah.
  2. Efek lain dari iskemia jika timbul perlahan-lahan dan berlangsung lama, adalah atrofi dari jaringan yang terkena. (pengurangan massa jaringan)
  3. Akibat iskemia yang paling ekstrim adalah kematian jaringan yang iskemik. Daerah yang mengalami nekrosis iskemik dinamakan infark. Dan proses pembentukan infark disebut infarksi.
  • Shock
Shock adalah suatu keadaan yang disebabkan oleh defisiensi sirkulasi akibat disparitas (ketidakseimbangan) antara volume darah dengan ruang susunan vaskuler.
Gejala-gejala shock : Rasa Lesu dan Lemas, Kulit yang basah (keringat), Kesadaran
menurun, kolaps vena, terutama vena-vena superfisial, Kepucatan, Nadi cepat dan lemah, Tachicardia (tekanan nadi tidak normal), Pernafasan dangkal (Sesak nafas), Tekanan darah rendah (hipotensi), oliguria dan kadang-kadang disertai muntah yang berwarna seperti air kopi akibat perdarahan dalam lambung (hematemesis).
  • Dehidrasi
Dehidrasi ialah suatu gangguan dalam keseimbangan air yang disertai ”output” yang melebihi ”intake” sehingga jumlah air pada tubuh berkurang. Meskipun yang hilang terutama ialah cairan tubuh, tetapi dehidrasi juga disertai gangguan elektrolit.
Dehidrasi dapat terjadi karena :
  1. Kemiskinan air (water depletion) ;
  2. Kemiskinan natrium (sodium depletion) ;
  3. Water and sodium depletion bersama-sama (Wulandari, C. 2010).

III. Daftar Pustaka
Guyton.A.C, 1996.Textbook of Medical Physiology, Philadelpia: Elsevier saunders
Isnaeni, Wiwi. 2006. Fisiologi Hewan. Yogyakarta: Kanisius
Joe. 2009. Keseimbangan Asam Basa. http://perawattegal.wordpress.com/2009/08/29/keseimbangan-asam-basa. Diakses 30 Maret 2011
Kuntarti. 2005. Keseimbangan Cairan, Elektrolit, Asam dan Basa. http://staff.ui.ac.id/internal/1308050290/publikasi/fluidbalance.pdf. Diakses 30 Maret 2011
Wulandari, C. 2010. Patologi - Gangguan Sirkulasi Darah. http://ya2n9imoet.blogspot.com/2010/03/patologi-gangguan-sirkulasi-darah.html. Diakses 30 Maret 2011

0 komentar:

Poskan Komentar

 
© 2009 Diary Veteriner | Powered by Blogger | Built on the Blogger Template Valid X/HTML (Just Home Page) | Design: Choen | PageNav: Abu Farhan