Pencernaan Karbohidrat Protein Lipid

1. Jelaskan proses metabolisme pada sistem pencernaan karnivora dan herbivora yang meliputi karbohidrat, protein dan lipid !

Karbohidrat
  • Struktur
Karbohidart merupakan sumber energoi uatam dan sumber serat utama. Karbohidrat mempunyai tiga unsure, yaitu karbon, hydrogen dan oksigen. Jenis-jenis karbohidrat sangat beragam. Karbohidrat dibedakan satu dengan yang lain berdasarkan susunan atom-aromnya, panjang pendeknya rantai serta jenis ikatan. Dari kompleksitas stri=ukturnya karbohidar dibedakan menjadi karbohidarat sederhana (monosakarida dan disakarida)dan karbohidrat dengn struktur yang kompleks (polisakarida). Selain kelompok tersebut juga masih ada oligosakarida yang memiliki monosakarida lebih pendek dari polisakarida, contohnya adalah satkiosa, rafinosa, fruktooligosakarida, dan galaktooligosakarida (Anonim, 2009).


1. Monosakarida
• Glukosa : Glukosa merupakan produk utama yang dibentuk dari hidrolisis karbohidrat kompleks dalam proses pencernaan. Glukosa ,merupakan bentuk gula yang biasnya terdapat pada aliran darah dan dalam sel. Glukosa dioksidasi untuk menghasilkan energy dan disimpan dalam hati untuk sebagi glikogen.
• Fruktosa : Fruktosa dinamakan juga gula tebu.
• Galaktosa : Produk ini diproduksi dari laktosa (gula dalam susu) dengan car hidroisis dalam proses pencernaan dan terdapat dalam bentuk bebas.
• Mannosa : Mannosa tidak terdapat dalam bentuk bebas dalam makanam, merupakn turunan dari mannosan yan terdapat dari beberpa leguminosa.

2. Oligosakarida
Didalam oligosakarida terdapat pula disakarida, Trisakarida dan tetrasakarida, Oligasakarida ini merupakan ikatan dari monosakarida yang tidak melebihi dari ikatan polisakarida. Adapaun contohnya sebagai berikut
- Disakarida non-pereduksi
• Sukrosa :sukrosa ini terdiri dari glukosa dan fruktosa.
• Trehalosa : kupulan mosoakarida ini banyak terdapat pada hemolimfe dari insekta
- Disakarida pereduksi
• Maltosa : terdiri dari dua molekul glukosa.
• Laktosa : Pada hidrolisi lakstosa akan menghasilakn galaktosa dan glukosa.
• Selubiosa : Merupakan disakaroda [enyusun selulosa terdiri dari dua molekul glukosa dengn ikatan glikosidik
- Trisakarida
• Rafinosa : rafinosa terdiri dari galaktosa, glukosa dan fruktosa. Senyawa ini dikenal dengan nama galaktosil sukrosa.
• Gelatinosa : terdiri atas glukosa, glukosa dan fruktosa.

3. Polisakarida
Polisakida yang terdapat pada ayam berfungsi structural dan berperan sebagai cadangan energy. Semua polisakarida dapat dihidrolisis oleh asam atau enzim akan menghasilkan monosakarida dan derivate monosakarida.
- Homopolisakarida : merupakn polisakarida yang menghasilkan satu tipe monosakarida pada proses hidrolisis.
• Selulosa : berbemtuk linear, tidak larut dalam air dan merupakn rangakain molekul beta-D-glukosa 10.000-5.000 unit
• Glikogen : serupa dengn amilopektin, Percabangan yang dijumapai pada glikogen terjadi pada setiap 8-12 unti glukosa, sehingga tamapk terlihat lebih kompak.
• Amilum : Amilum terdiri dari dua macam polimer glukosa yaitu amilosa (ranytai panjang dan tidak bercabang) dan amilo pectin.
• Khitin.
- Heteropolisakarida : merupakan polisakarida yang menghasilkan campuaran antara monosakarida dan derivatnya.
• Glikosaminoglikan
• Peptidoglikan (Prastowo, 2008).

  • Fungsi
• Simpanan Energi, bahan bakar dan senyawa antara metabolism
• Bagian dari kerangka structural dari pembentuk RNA dan DNA
• Merupakn eleme structural dari dinding sel tanamn mauoun bakteri.
• Identitas sel, berikatan dengan protein atau lipid dan berfungsi dalam proses pengenalan antar sel (Nuringtyas. 2009).

  • Katabolisme
Pada Proses katabolisme karbohidrat,, seing disebut dengn glikolosis yaitu proses Proses degradasi 1 molekul glukosa (C6) menjadi 2 molekul piruvat (C3) yang terjadi dalam serangkaian reaksi enzimatis yg menghasilkan energi bebas dalam bentuk ATP dan NADH Proses glikolisis terdiri dari 10 langkah reaksi yang terbagi menjadi 2 Fase, yaitu:
• 5 langkah pertama yang disebut fase preparatory
• langkah terakhir yang disebut fase payoff
Fase I memerlukan 2 ATP dan Fase II menghasilkan 4 ATP dan 2 NADP, sehingga total degradasi Glukosa menjadi 2 molekul piruvat menghasil 2 molekul ATP dan 2 molekul NADP.
Pada tahap pertama, molekul D-Glukosa diaktifkan bagi reaksi berikutnya dengan fosforilasi pada posisi 6, menghasilkan glukosa-6-fosfat dengan memanfaatkan ATP Reaksi ini bersifat tidak dapat balik. Enzim heksokinase merupakan katalis dalam reaksi tersebut dibantu oleh ion Mg2+ sebagai kofaktor.
Reaksi berikutnya ialah isomerasi, yaitu pengubahan glukosa-6-fosfat, yang merupakan suatu aldosa, menjadi fruktosa-6-fosfat, yang merupakan suatu ketosa, dengan enzim fosfoglukoisomerase dan dibantu oleh ion Mg2+.

Tahap selanjutnya adalah fruktosa-6-fosfat diubah menjadi fruktosa-1,6-difosfat oleh enzim fosoffruktokinase dibantu oleh ion Mg2+ sebagai kofaktor. Dalam reaksi ini,gugus fosfat dipindahkan dari ATP ke fruktosa-6-fosfat pda posisi 1.
Reaksi tahap keempat dalam rangkaian reaksi glikolisis adalah penguraian molekul fruktosa-1,6-difosfat membentuk dua molekul triosa fosfat, yaitu dihidroksi aseton fosfat dan D-gliseraldehid-3-fosfat oleh enzim aldolase fruktosa difosfat atau enzim aldolase. Hanya satu di antara dua triosa fosfat yang dibentuk oleh aldolase, yaitu gliseraldehid-3-fosfat, yang dapat langsung diuraikan pada tahap reaksi glikolisis berikutnya. Tetapi, dihidroksi aseton fosfat dapat dengan cepat dan dalam reaksi dapat balik, berubah menjadi gliseraldehid-3-fosfat oleh enzim isomerase triosa fosfat.

Tahap selanjutnya adalah reaksi oksidasi gliseraldehid-3fosfat menjadi asam 1,3 difosfogliserat. Dalam reaksi ini digunakan koenzim NAD+, sedangkan gugus fosfat diperoleh dari asam fosfat. Enzim yang mengkatalisis dalam tahap ini adalah dehidrogenase gliseraldehida fosfat. Pada tahap ini, enzim kinase fosfogliserat mengubah asam 1,3-difosfogliserat menjadi asam 3-fosfogliserat. Dalam reaksi ini terbentuk satu molekul ATP dari ADP dan memerlukan ion Mg2+ sebagai kofaktor. Pada tahap ini, terjadi pengubahan asam 3-fosfoliserat menjadi asam 2-fosfogliserat. Reaksi ini melibatkan pergeseran dapat balik gugus fosfat dari posisi 3 ke posisi 2. Reaksi ini dikatalisis oleh enzim fosfogliseril mutase dengan ion Mg2+ sebagai kofaktor.
Reaksi berikutnya adalah reaksi pembentukan asam fosfoenol piruvat dari asam 2-fosfogliserat dengan katalisis enzim enolase dan ion Mg2+ sebagai kofaktor. Reaksi pembentukan asam fosfoenol piruvat ini ialah reaksi dehidrasi.

Tahap terakhir pada glikolisis ialah reaksi pemindahan gugus fosfat berenergi tinggi dari fosfoenolpiruvat ke ADP yang dikatalisis oleh enzim piruvat kinase sehingga terbentuk molekul ATP dan molekul asam piruvat.
(Camphell,2003)

Lemak
  • Struktur
Berdasarkan struktur dan fungsi bermacam-macam lemak menjadi salah satu dasar pengklasifiksian lemak.
Asam-asam lemak : Merupakan suatu rantai hidrokarbon yang mengandung satu gugus metal pada salah satu ujungnya dan salah satu gugus asam atau karboksil. Secara umum formula kimia suatu asam lemak adalah CH3(CH2)nCOOH, dan n biasanya kelipatan dua.
• Rantai pendek : rantai hidrokarbonnya terdiri dari jumlah atom karbon genap 4-6 atom.
• Rantai sedang : 8-12 atom
• Rantai panjang : 14-26 atom.
Dan asam lemak-asam lemak ini merupakn asam lemak jenuh

Sedangkan untuk asam lemak tidak jenuh, adalh yang mempunayi ikatan rangkap astu lebih misalnya palmitoleat, linolenat, arakhidat, dan lain sebagainya. CH3(CH2)7CH=CH(CH2)7COOH (oleat).
Turunan-turunan asam lemak : merupakan suatu komponen yang terbentuk dari satu atau lebih asam lemak yang mengandung alcohol dan disebut ester. Terdapat dua golongan ester yaitu gliserol ester dan cholesterol ester.
• Gliserol ester : terbentuk melalui metabolism karbohidrat yang mengandung tiga atom karbon, yang salah satu ataom karon bersatu dengan salah satu gugus alcohol. Reaksi kondensasi antara gugus karboksil dengan gugus alcohol dari gliserol akan membentuk gliserida, tergantung dari jumlah asam lemak dari gugus alkohol yang membentuk raeksi kondensasi. (monogliserida, digliserida, trigliserida)
• Kolesterol ester : terbentuk melelui reaksi kondensasi, sterol, kolesterol, dan sam lemak terikat dengan gugus alcohol.
• Glikolipid : komponen ini mempunayi sifat serperti lipid, terdiri dari satu atu lebih komponen gula, dan biasanya glukosa dan galaktosa.

• Sterol : merupakan golongan lemak yang larut dalam alcohol, Mislanya kolesterol sterol. Berbeda dengan struktur lainnya sterol mempunyai nucleus dengan empat buah cincin yang saling berhubunga, tiga diantaranya mengandung 6 atom karbon, sedang yang keempat mengandung 5 atom karbon (Piliang. 2006).

  • Fungsi
• Sebagai penyusun struktur membran sel Dalam hal ini lipid berperan sebagai barier untuk sel dan mengatur aliran material-material.
• Sebagai cadangan energi Lipid disimpan sebagai jaringan adiposa
• Sebagai hormon dan vitamin, hormon mengatur komunikasi antar sel, sedangkan vitamin membantu regulasi proses-proses biologis (Nugroho, 2009).

  • Metabolisme gliserol
Gliserol sebagai hasil hidrolisis lipid (trigliserida) dapat menjadi sumber energi. Gliserol ini selanjutnya masuk ke dalam jalur metabolisme karbohidrat yaitu glikolisis. Pada tahap awal, gliserol mendapatkan 1 gugus fosfat dari ATP membentuk gliserol 3-fosfat. Selanjutnya senyawa ini masuk ke dalam rantai respirasi membentuk dihidroksi aseton fosfat, suatu produk antara dalam jalur glikolisis.

1. Oksidasi asam lemak (oksidasi beta)
Untuk memperoleh energi, asam lemak dapat dioksidasi dalam proses yang dinamakan oksidasi beta. Sebelum dikatabolisir dalam oksidasi beta, asam lemak harus diaktifkan terlebih dahulu menjadi asil-KoA. Dengan adanya ATP dan Koenzim A, asam lemak diaktifkan dengan dikatalisir oleh enzim asil-KoA sintetase (Tiokinase).
Asam lemak bebas pada umumnya berupa asam-asam lemak rantai panjang. Asam lemak rantai panjang ini akan dapat masuk ke dalam mitokondria dengan bantuan senyawa karnitin, dengan rumus (CH3)3N+-CH2-CH(OH)-CH2-COO- (Murray, et al, 2003).

2. Sintesis asam lemak
Makanan bukan satu-satunya sumber lemak kita. Semua organisme dapat men-sintesis asam lemak sebagai cadangan energi jangka panjang dan sebagai penyusun struktur membran. Pada manusia, kelebihan asetil KoA dikonversi menjadi ester asam lemak. Sintesis asam lemak sesuai dengan degradasinya (oksidasi beta). Sintesis asam lemak terjadi di dalam sitoplasma. ACP (acyl carrier protein) digunakan selama sintesis sebagai titik pengikatan. Semua sintesis terjadi di dalam kompleks multi enzim-fatty acid synthase. NADPH digunakan untuk sintesis (Murray, et al, 2003).

Protein
  • Struktur
Diliht dari tingkat organisasi struktur, protein dapat diklasifikasikan ke dalam empat kelas dengan urutan kerumitan yang berkurang. Kelas-kelas itu adalah :
1. Struktur primer. Ini adalah hanya urutan asam amino di dalam rantai protein. Dtruktur primer protein diselenggarakan oleh ikatan-ikatan (peptida) yang kovalen.
2. Struktur sekunder. Hal ini merujuk ke banyaknya struktur helix-aa atau lembaran berlipatan-B setempat yang berhubungan dengan struktur protein secara keseluruhan. Struktur sekunder protein diselenggarakan oleh ikatan-ikkatan hidrogen antara oksigen karbonil dan nitrogen amida dari rantai polipeptida.
3. Struktur tersier. Hal ini menunjuk ke cara rantai protein ke dalam protein berbentuk bulat dilekukkan dan dilipat untuk membentuk struktur tiga-dimensional secara menyeluruh dari molekul protein. Struktur tersier diselenggarakan oleh onteraksi antara gugus-fufus R dalam asam amino.
4. Struktur kuartener. Banyak protein ada sebagai oligomer, atau molekul-molekul besar terbentuk dari pengumpulan khas dari subsatuan yang identik atau berlainan yang dikenal dengan protomer (Poedjiadi, 2005).

  • Fungsi
• Membentuk jaringan/ bagian tubuh lain
• Pertumbuhan (bayi, anak, pubertas)
• Pemeliharaan (dewasa)
• Membentuk sel darah
• Membentuk hormon, enzym, antibody,dll
• Memberi tenaga (protein sparing efek)
• Pengaturan (enzim, hormone) (Anonim b, 2009)

  • Katabolisme
Asam-asam amino tidak dapat disimpan oleh tubuh. Jika jumlah asam amino berlebihan atau terjadi kekurangan sumber energi lain (karbohidrat dan protein), tubuh akan menggunakan asam amino sebagai sumber energi. Tidak seperti karbohidrat dan lipid, asam amino memerlukan pelepasan gugus amin. Gugus amin ini kemudian dibuang karena bersifat toksik bagi tubuh.

Terdapat 2 tahap pelepasan gugus amin dari asam amino, yaitu:
1. Transaminasi : Enzim aminotransferase memindahkan amin kepada α-ketoglutarat menghasilkan glutamat atau kepada oksaloasetat menghasilkan aspartat
2. Deaminasi oksidatif : Pelepasan amin dari glutamat menghasilkan ion ammonium Gugus-gugus amin dilepaskan menjadi ion amonium (NH4+) yang selanjutnya masuk ke dalam siklus urea di hati. Dalam siklus ini dihasilkan urea yang selanjutnya dibuang melalui ginjal berupa urin.

Proses yang terjadi di dalam siklus urea digambarkan terdiri atas beberapa tahap yaitu:
1. Dengan peran enzim karbamoil fosfat sintase I, ion amonium bereaksi dengan CO2 menghasilkan karbamoil fosfat. Dalam raksi ini diperlukan energi dari ATP
2. Dengan peran enzim ornitin transkarbamoilase, karbamoil fosfat bereaksi dengan L-ornitin menghasilkan L-sitrulin dan gugus fosfat dilepaskan.
3. Dengan peran enzim argininosuksinat sintase, L-sitrulin bereaksi dengan L-aspartat menghasilkan L-argininosuksinat. Reaksi ini membutuhkan energi dari ATP
1. Dengan peran enzim argininosuksinat liase, L-argininosuksinat dipecah menjadi fumarat dan L-arginin
2. Dengan peran enzim arginase, penambahan H2O terhadap L-arginin akan menghasilkan L-ornitin dan urea (Lehninger, 2005).

2. Sebutkan dan jelaskan parasit yang menyerang saluran pencernaan dan kelenjar pencernaan pada mamalia !

  • Protozoa
a. Toxoplasma gondii
Protozoa ini berada hampir di seluruh tubuh termasuk saluran pencernaan dan hepar. Penyakit yang diakibatkan oleh protozoa ini disebut toxoplasmosis. Yang paling sering terkena di lingkungan umum adalah anjing dan kucing. Sumber penularan ialah terutama feses kucing yang mengandung okista. Gejala klinis toxoplasmosis tidak tersifat karena banyak juga penyakit-penyakit menyerupai penyakit ini. Kepastian diagnosa tentang penyakit ini didapat jika dapat melakukan pengasingan protozoa dan pemeriksaan serologik. Tanda terserang penyakit oleh Toxoplasma gondii pada saluran pencernaan adalah ditemukannya gastro-enteritis bersifat kataral sedangkan adanya tukak-tukak mukosa biasanya di duodenum. Hati memperlihatkan perdarahan-perdarahan lokal, degenerasi, dan memperlihatkan sarang-sarang nekrosa. (Ressang, 1984)

  • Platyhelminthes
a. Fasciola gigantica
Fasciola gigantica adalah parasit yang cukup potensial penyebab fascioliasis atau distomatosis. Fasciola gigantica bentuknya pipih seperti daun dan habitat utamanya di hati rnaka dikenal dengan nama cacing hati. Ada tiga cara larva infektif cacing hati setelah masuk ke dalam tubuh sampai ke organ hati hewan yang terinfeksi. Pertama ialah ikut bersama aliran darah, kemudian menembus kapiler darah, terus ke vena porta dan akhirya sampai ke hati. Kedua, dari lambung (abomasum) menembus mucosa usus (duodenum), ke saluran empedu dan akhirnya sampai ke parenkhim hati. Ketiga, yang umum terjadi adalah setelah menembus usus menuju peritonium, lalu menembus kapsula hati yang akhimya sampai ke hati (Arifin, 2006).

Cacing dewasa hidup dalam saluran empedu hospes definitif (terutama ruminansia kadang juga orang). Cacing bertelur dan keluar melalui saluran empedu dan keluar melalui feses. Telur berkembang membentuk meracidium dalam waktu 9-10 hari pada suhu optimum. Meracidium mencari hospes intermedier siput Lymnea rubiginosa dan berkembang menjadi cercaria. Cercaria keluar dari siput dan menempel pada tanaman air/rumput/sayuran. Cercaria melepaskan ekornya memmbetuk metacercaria. Bila rumput/tanaman yang mengandung metacercaria dimakan oleh ternak/orang, maka cacing akan menginfeksi hospes definitif dan berkembang menjadi cacing dewasa. Cacing dalam saluran empedu menyebabkan peradangan sehingga merangsang terbentuknya jaringan fibrosa pada dinding saluran empedu. (Arifin, 2006)

b. Paramphistomum sp.
Cacing ini dari kelas trematoda yang merupakan cacing gastrointestinal. Cacing ini menyerang ternak pemamah biak yang berumur muda ataupun yang dewasa. Ternak-ternak yang diserangnya terutama adalah kerbau, sapi, kambing dan domba (Levine, 1978).
Paramphistomum berukuran 1 cm dan berbentuk bulat serta memiliki batil isap kecil pada bagian depan serta batil isap besar yang disebut acetabulum pada bagian ventral. Batil tersebut digunakan untuk mengisap dan perlekatan pada organ pencernaan dari ruminansia (Tim Parasitologi FKH-USK, 2005).
Cacing gastrointestinal banyak sekali menimbulkan kerugian berupa kekurusan, tenaga menurun dan kematian pada ternak muda dan dewasa. Hal ini jelas menimbulkan kerugian ekonomi yang besar bagi masyarakat petani peternak. Penurunan berat badan yang ditimbulkannya rata-rata untuk kambing dan domba adalah sebesar 5 kg/ berat badan per ekor (Hotasoit, 1982 disitasi Anonimus 1991).

Daerah penyebaran cacing gastrointestinal ini adalah daerah yang memiliki suhu udara 25-30 0C dengan kelembaban kira-kira 85 %. Telur cacing yang keluar bersama kotoran menjadi siap tular selama 5-7 hari pada suhu udara dan kelembaban seperti tersebut di atas (Anonim c, 1991).
Infestasi paramphistomum sp. Biasanya terjadi pada bulan-bulan kering (musim kemarau). Pada saat ini populasi siput yang menjadi induk semang parasit tersebut terpusat di sekitar daerah-daearah yang berair. Daerah-daerah ini pada musim panas memiliki rumput yang subur dan hewan ternak sering berkumpul di sini sehingga menyebabkan infestasi yang berat (Soulby, 1982).

c. Cacing Schistosoma
Cacing ini merupakan trematoda berbentuk panjang, unisexual. Cacing jantan pipih seperti daun, sedangkan cacing betina bentuknya gilig dan ukurannya lebih panjang. Cacing betina pada umumnya melekat pada cacing jantan, terutama pada saat kopulasi disebabkan karena pada bagian ventral cacing jantan terdapat suatu celah yang berbentuk silindris dan mengikuti sisi lateral tubuh yang dinamakan canalis gynaecophorus .
Cacing betina dewasa yang telah siap untuk bertelur akan segera memasuki pembuluh darah kecil sampai jauh kedalam atau mukosa intestinum untuk meletakkan telurnya . beberapa telur dapat terbawa aliran darah dan kemudian dapat dijumpai dalam hati dan organ-organ lainnya.

Telur cacing berjumlah 300 – 3500 butir per hari akan ada yang terbebas di dalam lumen usus dan terbawa keluar bersama tinja saat defikasi. Setelah telur keluar bersama tinja saat defikasi di alam luar pada kondisi yang menunjang ( cahaya, suhu 25-30oC, PH 5-8 ) telur akan menetas dan terbebaslah larva mirasidium larva mirasidium yang terbebas akan berenang selama 16-24 jam untuk menginfeksi HI yaitu siput jenis Bulinus sp., Oncomelania sp.. Seandainya tidak menemukan inang antara yang serasi maka mirasidium akan mati. Mirasidium menembus tubuh siput dan melepaskan silianya selanjutnya mengembara kearah kelenjar pencernaan dan berkembang menjadi sporokista generasi I dan berkembang membentuk sporokista generasi ke II, kemudia menghasilkan cercaria dengan ekor bercabang ( furcocercous) .

Infeksi terjadi dengan menembus kulit sapi (hospes) pada waktu sapi kontak dengan air. Proses penembusan kulit itu dibantu oleh ludah yang mengandung enzem proteolitik yang dikeluarkan oleh kelenjar ludah daerah kepala. Cacing muda (Schistosumola) tersebut berkumpul dalam saluran darah vorta tempat predeleksinya, mungkin mengikuti aliran darah. (Supan, 1992)

d. Echinostoma sp.
Cacing daun berbentuk agak memanjang dengan ventral sucker yang besar dan kuat terletak tidak jauh dari oral sucker. Oral sucker dipersenjatai oleh spina disebelah dorsal dan lateral. Panjang tubuh 10-22 mm, lebar 2,25 mm. Oral sucker dipersenjatai oleh 37 spina. Testis memanjang atau oval terletak sedikit posterior dari tengah-tengah tubuh dengan ovarium terletak didepannya. Telur berukuran 90 – 126 X 59 – 71 mikron. Siklus hidup pada perinsipnya sama dengan Fasciola sp., tetapi HI nya lain dan cercaria yang keluar akan memasuki HI lain ialah bangsa siput atau amphibi atau ikan dan mengkista disana. Hospes definitif terinfeksi dengan memakan HI kedua yang mengandung kista infeksius tersebut. Sebagai HI pertama adalah siput jenis Lymnaea, Planorbis dan Physa. (Levine, 1995)

  • Nemathelminthes
a. Ancylostomum duodenale
Cacing ini lebih sering dikenal di Indonesia sebagai cacing tambang, penyebab penyakit ankilostomiasis. Cacing ini menyerang terutama pada anjing, kadang pada kucing. Gejala-gejala klinis adalah diare berdarah bercampur lendir, anjing lesu, kurus, nafsu makan tidak baik, dan bunyi gerak peristaltik usus anjing sering terdengar. Selain itu di tinja juga terdapat telur-telur cacing dan menyebabkan anemi sehingga gusi, lidah, dan lapisan mukosa di bawah mata tampak pucat. Hati sekali-sekali memperlihatkan degenerasi lemak, membengkak, dan berwarna kuning. (Ressang, 1984)

b. Haemonchus contortus
Cacing ini menyerang lambung (abomasum) pada anak sapi, kambing, dan domba yang hampir menyerupai ankilostomiasis pada karnivora. Tanda terinfeksi cacing ini adalah kekurusan, anemi berat, dan edema di mana-mana. Lipatan-lipatan mukosa lambung kelenjar menjadi sangat tebal akibat busung air di lapisan submukosa. Di antara lipatan ini ditemukan cacing-cacing yang biasanya berwarna merah karena banyak menyerap darah. (Ressang, 1984)

DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2009. Karbohidrat. http://id.shvoong.com/medicine-and-health/1799308-karbohidrat/. Diakses pada tanggal 21 Januari 2011
Anonim. 2009 b. Fungsi Protein. http://rgilfan.wordpress.com/2008/05/27/fungsi-protein/ Diakses pada tanggal 21 Januari 2011
Anonim (c). 1991. Peta dan Petunjuk Pengendalian Penyakit Hewan di Provinsi Tk. I Sumatera Utara Tahun 1991. BPPH Wilayah I Medan.
Arifin M., 2006. Pengaruh Iradiasi Terhadap Infektivitas Metaserkaria Fasciola gigantica pada Kambing. http://digilib.batan.go.id/eprosiding/File%Prosiding/ Kesehatan/ Risalah % 2000/2000/M-Arifin.pdf.
Campbell, dkk. 2003. Biology Jilid I. Jakarta: Erlangga.
Lehninger. 2005. Dasar-dasar Biokimia Jilid 2. Jakarta: Erlangga.
Levine, N. D. 1978. Textbook of Veterinary Parasitology. Burgess Publishing Company, USA.
Levine, N.D. 1995. Parasitologi Veteriner. Terjemahan Gatut Ashadi. Gajah Mada University Press.
Levine, N. D. 1994. Buku Pelajaran Parasitologi Veteriner. Yogyakarata. Gadjah Mada University Press
Murray RK, Granner DK, Mayes PA, Rodwell VW. 2003. Biokimia Harper Edisi XXV. Penerjemah Hartono Andry. Jakarta: EGC
Nugroho, H. 2009. Metabolisme Lipid. static.schoolrack.com/34773/5-metabolisme_lipid.doc. Diakses pada tanggal 21 Januari 2011
Nuringtyas 2009. Karbohidrat. elisa.ugm.ac.id/files/chimera73/ulnVfTez/KARBOHIDRAT1.pdf. Diakses pada tanggal 21 Januari 2011
Piliang. W. 2006. Fisiologi Nutrisi. Bogor : IPB Press
Ressang. 1984. Patologi Khusus Veteriner. Team Leader IFAD Project: Bali.
Soulby, E. J. L. 1982. Helminths, Arthropods and Protozoa Domesticated Animals. 6th Edition. The English Languange Book Society and Bailliera Tindal Cassel Ltd. Philadelphia.
Supan Kusumamiharja 1992. Parasit dan Parasitosis pada Hewan Ternak dan Hewan Piaraan di Indonesia. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. Pusat Antar Universitas Bioteknologi. Institut Pertanian Bogor
Tim Parasitologi. 2005. Buku Ajar Parasitologi Veteriner. Fakultas Kedokteran Hewan Unsyiah, Darussalam-Banda Aceh.

0 komentar:

Poskan Komentar

 
© 2009 Diary Veteriner | Powered by Blogger | Built on the Blogger Template Valid X/HTML (Just Home Page) | Design: Choen | PageNav: Abu Farhan